KERINCI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Setinjau Laut, Kabupaten Kerinci, menjadi perbincangan masyarakat setelah beredar di media sosial (Facebook) unggahan foto menu makanan yang diterima peserta didik yang sangat mengecewakan.
Menu yang tampak terdiri dari nasi, telur dadar, sayuran, dan kacang tanah tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah komposisi yang disajikan telah memenuhi standar gizi yang menjadi tujuan utama Program MBG.
![]() |
| Foto: Unggahan di Facebook |
"Taksiran 3.500 rupiah". Tulis akun facebook @elfidermen
Perlu di pertanyakan ahli gizi nya.???, Ini menu mbg di dapur sppg dusun manggis, Kab.bungo hri ini....berbanding terbalik...๐๐ Tulis Netizen
"Makin hari makin parah saja, ku fikir ditempatku ternyata ditempat lain juga sama . Biar masyarakat saja yang menilai , kalo dikritik dibilang tidak bersyukur oleh oknum disana , padahal bukan tidak bersyukur hanya kita heran saja sekaligus bertanya dan itu wajar karna dana mbg itu dari kita juga dari kita bayar pajak dan lain lain , jujur janggal sedangkan dari pemerintah untuk mbg itu 15 ribu / mbg . Sedangkan yang diterima seperti itu , bisa hitung hitungan lah,Jangan berlindung atau menghakimi orang tidak bersyukur orang itu butuh penjelasan !Nasi padang disungai penuh 13 ribu saja porsi nya banyak, lengkap sayur, kuah ,cabe dan daging!" Tulis warga net lainnya.
rogram yang dibiayai dari anggaran negara itu sejatinya tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bagi peserta didik, tetapi juga menjamin kecukupan gizi untuk mendukung pertumbuhan, kesehatan, dan kemampuan belajar anak. Karena itu, masyarakat menilai setiap menu yang disajikan harus dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan standar gizi yang berlaku.
Sejumlah warga berharap pihak penyelenggara tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga membuka informasi mengenai komposisi menu, nilai gizi, dan mekanisme pengawasannya. Transparansi dinilai penting agar masyarakat mengetahui bahwa anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat sesuai tujuan program.
“Program ini membawa harapan besar bagi masa depan anak-anak. Karena itu, kualitas menu harus menjadi perhatian utama, bukan sekadar memenuhi kewajiban penyaluran,” ujar salah seorang warga.
Masyarakat juga mendorong instansi terkait untuk melakukan evaluasi berkala terhadap kualitas makanan yang disajikan di setiap sekolah. Evaluasi tersebut dinilai penting agar Program MBG tidak hanya berhasil dari sisi pelaksanaan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan gizi bagi penerima manfaat.(Red)
